Komet Sang Pengabul Doa


                   pinterest.com/pngtree

  Waktu kecil aku sering dibacakan kisah oleh ibuku ketika aku akan beranjak tidur. Kisah sebuah komet yang akan mengabulkan permintaan seseorang yang menurut ia istimewa. Tapi, ada harga yang harus dibayar untuk bisa mengabulkan permintaan itu.

  Komet itu memiliki ciri-cirinya sendiri, ia terlihat sama dengan komet lainnya. Tapi, ada satu ciri fisik yang sangat berbeda darinya. Ia memiliki cahaya yang lebih terang dan berwarna-warni.

  Seorang anak kecil mengetahui legenda itu, ia ingin sekali bisa melihat komet itu. Tak terhitung lamanya ia menunggu, malam demi malam, ia selalu menatap langit berharap bisa melihat kilauan cahaya berwarna-warni yang diceritakan pamannya dulu. Anak itu, bernama Aria, percaya bahwa komet itu bisa mengabulkan satu permintaannya yang sangat ia inginkan.

  Suatu malam yang tenang, ketika bulan bersinar terang dan bintang-bintang tampak berkilauan di langit, Aria melihat sesuatu yang berbeda. Sebuah cahaya berwarna-warni melintasi langit, jauh lebih terang dari bintang mana pun. Jantungnya berdebar kencang. "Itu pasti kometnya!" gumamnya dengan penuh semangat.

  Aria berlari keluar rumah, melewati kebun kecil di depan rumahnya, dan berdiri di lapangan terbuka. Dengan penuh harapan, ia menatap komet itu dan berbisik, "Komet yang istimewa, aku mohon, kabulkanlah permintaanku. Aku ingin sekali melihat ayahku kembali."

  Seketika secercah cahaya muncul di hadapan gadis itu. "Hai gadis kecil, bila kamu memang ingin melihat ayahmu. Akan ada konsekuensi yang harus kamu bayar" cahaya itu berbicara kepada Aria.

  Aria tertegun sejenak, tidak percaya bahwa cahaya itu benar-benar berbicara padanya. Namun, keinginannya untuk melihat ayahnya kembali begitu kuat sehingga ia mengangguk.
 
  "Aku siap membayar harganya," kata Aria dengan suara gemetar namun penuh tekad. "Aku sangat merindukan ayahku."

  Cahaya itu berkilauan sejenak sebelum menjawab, "Baiklah, permintaanmu akan dikabulkan. Namun ingat, setiap keinginan memiliki harga yang harus dibayar."

  Sekejap kemudian, cahaya itu menghilang dan langit malam kembali seperti semula. Aria berdiri di sana dengan hati berdebar-debar, menunggu tanda bahwa permintaannya telah terkabul.

  Keesokan paginya, Aria terbangun dengan perasaan yang aneh. Saat ia turun ke ruang tamu, ia terkejut melihat ayahnya berdiri di sana, tersenyum padanya. Air mata kebahagiaan mengalir di pipinya saat ia berlari memeluk ayahnya erat-erat.

  "Ayah! Ayah kembali!" teriak Aria, tak bisa menahan kegembiraannya.

  Ayahnya membalas pelukan itu dengan lembut. "Iya, Aria. Ayah kembali untukmu.
 
  "Namun, kebahagiaan Aria tidak berlangsung lama. Seiring berjalannya hari, ia mulai memperhatikan sesuatu yang aneh. Ayahnya tampak pucat dan lebih sering melamun. Ia juga sering kali terlihat kesakitan, meski berusaha menyembunyikannya dari Aria dan ibunya.

  Malam harinya, ketika semua sudah tidur, Aria mendengar ayahnya berbicara dengan ibunya. Dengan hati-hati, ia mengendap-endap mendekati pintu kamar mereka dan mendengarkan.

  "Istriku, aku merasa ada yang aneh sejak aku kembali," kata ayahnya dengan suara lemah. "Aku merasa seperti ada bagian dari diriku yang hilang, dan aku terus merasa lelah dan sakit." 

  Ibunya terdengar khawatir. "Apa yang terjadi? Apa yang bisa kita lakukan?"

  "Aku tidak tahu," jawab ayahnya. "Tapi aku merasa ini ada hubungannya dengan permintaan Aria."

  Aria merasa bersalah mendengar itu. Ia tidak pernah bermaksud membuat ayahnya menderita. Dengan hati yang berat, ia memutuskan untuk kembali ke lapangan tempat ia melihat komet itu. Malam berikutnya, ia menatap langit dan berbisik, "Komet yang istimewa, aku mohon, jangan biarkan ayahku menderita. Aku bersedia membayar harganya, apapun itu."

  Sekali lagi, secercah cahaya muncul di hadapannya. "Hai gadis kecil, kamu telah memahami arti dari harga yang harus dibayar. Kesetiaan dan kasih sayangmu telah membuktikan bahwa kamu benar-benar istimewa."

  Cahaya itu kemudian menghilang, dan Aria merasa hatinya lega. Keesokan paginya, ayahnya tampak lebih sehat dan segar, seperti sebelumnya. Ia tertawa dan bermain dengan Aria seperti yang dulu mereka lakukan. Namun, Aria menyadari bahwa ia harus menerima konsekuensinya.

  Sejak malam itu, Aria menyadari bahwa ia tidak bisa lagi melihat cahaya berwarna-warni dari komet itu, seolah-olah keistimewaan itu telah diambil darinya. Tapi ia tidak menyesal, karena ia tahu bahwa ia telah melakukan yang benar untuk orang yang ia cintai.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama